Pernah dengar istilah "desil" dalam konteks bantuan sosial (bansos)? Istilah ini memang sering muncul, terutama saat membahas siapa saja yang berhak menerima bantuan dari pemerintah. Namun, tidak sedikit yang masih bingung dengan artinya, apalagi kaitannya dengan angka 1 sampai 10 dan bagaimana cara mengeceknya.
Singkatnya, desil ini adalah alat ukur yang digunakan untuk mengelompokkan masyarakat berdasarkan tingkat kesejahteraan ekonomi. Jadi, bukan sekadar angka biasa, melainkan cerminan kondisi sosial ekonomi yang menentukan apakah seseorang layak menerima bansos atau tidak. Yuk, kita bedah lebih dalam apa itu desil, bagaimana cara kerjanya, dan apa artinya jika desil seseorang tergolong tinggi.
Memahami Desil Bansos: Pengertian dan Klasifikasinya
Desil dalam konteks bantuan sosial adalah metode statistik yang membagi populasi menjadi sepuluh kelompok dengan jumlah anggota yang sama. Pembagian ini didasarkan pada tingkat kesejahteraan ekonomi, mulai dari yang termiskin hingga terkaya. Tujuannya jelas, untuk memastikan bansos tepat sasaran, menjangkau mereka yang paling membutuhkan.
Setiap kelompok desil memiliki karakteristik ekonomi yang berbeda. Semakin kecil angka desil, semakin rendah tingkat kesejahteraan ekonominya, yang berarti semakin besar peluang untuk menerima bantuan. Sebaliknya, desil yang tinggi menunjukkan kondisi ekonomi yang lebih baik, sehingga kemungkinan menerima bansos menjadi lebih kecil.
Desil 1: Kelompok Paling Rentan
Desil 1 merujuk pada 10% penduduk dengan tingkat kesejahteraan ekonomi paling rendah. Mereka adalah kelompok masyarakat yang sangat rentan terhadap kemiskinan dan seringkali menjadi prioritas utama dalam penyaluran berbagai program bantuan sosial. Kondisi ekonomi mereka biasanya ditandai dengan penghasilan yang sangat minim atau bahkan tidak tetap, kesulitan memenuhi kebutuhan dasar, serta akses terbatas terhadap pendidikan dan layanan kesehatan.
Pemerintah seringkali menargetkan kelompok ini dengan program-program khusus yang dirancang untuk mengurangi beban hidup dan meningkatkan kualitas hidup mereka secara signifikan. Contohnya, bantuan pangan, bantuan tunai langsung, atau program subsidi yang sangat vital bagi kelangsungan hidup sehari-hari.
Desil 2: Kelompok Rentan Kedua
Sedikit di atas Desil 1, Desil 2 juga merupakan kelompok yang sangat rentan. Mereka berada pada posisi 10% berikutnya dari populasi termiskin. Meskipun mungkin memiliki sedikit lebih banyak sumber daya dibandingkan Desil 1, mereka tetap menghadapi tantangan ekonomi yang serius.
Kelompok ini juga menjadi target penting dalam program bansos, meskipun mungkin dengan jenis bantuan yang sedikit berbeda atau porsi yang disesuaikan. Tujuannya tetap sama, yaitu untuk mencegah mereka jatuh ke dalam kemiskinan yang lebih parah dan membantu mereka memperbaiki kondisi ekonomi.
Desil 3 dan 4: Kelompok Menengah Bawah
Desil 3 dan 4 mewakili 20% populasi yang berada di atas Desil 1 dan 2, namun masih tergolong menengah ke bawah. Mereka mungkin memiliki pekerjaan, tetapi penghasilan yang didapatkan seringkali tidak cukup untuk menutupi semua kebutuhan dasar, apalagi untuk menabung atau menghadapi situasi darurat.
Bantuan untuk kelompok ini seringkali bersifat penunjang, seperti subsidi pendidikan, kesehatan, atau modal usaha kecil, yang bertujuan untuk meningkatkan kemandirian ekonomi mereka. Mereka mungkin tidak selalu menjadi prioritas utama seperti Desil 1 dan 2, namun tetap dipertimbangkan dalam skema bansos tertentu.
Desil 5 dan 6: Kelompok Menengah
Desil 5 dan 6 adalah kelompok masyarakat menengah. Mereka umumnya memiliki pekerjaan tetap dan penghasilan yang cukup untuk memenuhi kebutuhan dasar, bahkan mungkin sedikit lebih. Namun, mereka masih bisa terpengaruh oleh gejolak ekonomi atau situasi darurat yang tidak terduga.
Peluang kelompok ini untuk menerima bansos semakin kecil, kecuali untuk program-program yang bersifat universal atau untuk kondisi khusus. Fokus bantuan untuk kelompok ini lebih sering ke arah pemberdayaan ekonomi atau peningkatan kapasitas, bukan sekadar bantuan konsumtif.
Desil 7 dan 8: Kelompok Menengah Atas
Kelompok Desil 7 dan 8 adalah masyarakat dengan tingkat kesejahteraan ekonomi menengah ke atas. Mereka memiliki penghasilan yang stabil, mampu memenuhi kebutuhan dasar dengan nyaman, dan memiliki kemampuan untuk menabung atau berinvestasi.
Sangat jarang kelompok ini menerima bantuan sosial dari pemerintah, kecuali dalam kasus-kasus luar biasa atau program yang tidak didasarkan pada tingkat ekonomi. Kebijakan pemerintah biasanya lebih berfokus pada kelompok yang lebih membutuhkan.
Desil 9 dan 10: Kelompok Paling Sejahtera
Desil 9 dan 10 adalah kelompok masyarakat dengan tingkat kesejahteraan ekonomi paling tinggi, bahkan cenderung kaya. Mereka memiliki penghasilan yang sangat baik, aset yang signifikan, dan akses penuh terhadap berbagai fasilitas dan layanan.
Kelompok ini secara otomatis tidak memenuhi syarat untuk menerima bantuan sosial yang ditujukan untuk masyarakat miskin atau rentan. Sebaliknya, mereka mungkin menjadi pihak yang berkontribusi melalui pajak atau program filantropi untuk mendukung program-program sosial pemerintah.
Mengapa Desil Penting dalam Penyaluran Bansos?
Sistem desil ini bukan tanpa alasan digunakan dalam penyaluran bansos. Ada beberapa alasan kuat mengapa pemerintah mengandalkan metode ini untuk menentukan kelayakan penerima bantuan. Ini semua demi mewujudkan distribusi bantuan yang adil dan efektif.
1. Menentukan Target Sasaran yang Tepat
Dengan adanya pembagian desil, pemerintah bisa lebih mudah mengidentifikasi siapa saja yang benar-benar membutuhkan bantuan. Ini mencegah bantuan salah sasaran, di mana bantuan justru jatuh ke tangan mereka yang sebenarnya mampu dan tidak memerlukan uluran tangan pemerintah. Desil membantu menciptakan filter yang jelas, memastikan bantuan sampai pada kelompok yang paling rentan.
2. Efisiensi Anggaran Pemerintah
Anggaran untuk bansos tidaklah tidak terbatas. Dengan menargetkan penerima berdasarkan desil, pemerintah dapat mengalokasikan dana secara lebih efisien. Setiap rupiah yang dikeluarkan bisa memberikan dampak maksimal karena disalurkan kepada mereka yang benar-benar akan merasakan manfaatnya, bukan sekadar pelengkap kebutuhan. Ini juga membantu menghindari pemborosan dan memastikan keberlanjutan program bansos.
3. Mencegah Kecemburuan Sosial
Transparansi dalam penentuan penerima bansos melalui sistem desil juga dapat membantu mengurangi potensi kecemburuan sosial. Ketika masyarakat memahami bahwa penerima bantuan ditentukan berdasarkan kriteria yang jelas dan terukur, mereka cenderung lebih menerima keputusan tersebut. Ini penting untuk menjaga kohesi sosial dan kepercayaan publik terhadap program pemerintah.
4. Evaluasi dan Perencanaan Program
Data desil juga menjadi dasar penting untuk evaluasi dan perencanaan program bansos di masa depan. Dengan mengetahui distribusi penerima bansos berdasarkan desil, pemerintah bisa menganalisis efektivitas program yang sudah berjalan. Informasi ini sangat berharga untuk merumuskan kebijakan yang lebih baik, menyesuaikan jenis bantuan, atau bahkan mengembangkan program baru yang lebih relevan dengan kebutuhan masyarakat.
Cara Mengecek Status Desil dan Kelayakan Bansos
Penasaran ingin tahu desil seseorang atau status kelayakan untuk bansos? Ada beberapa cara yang bisa dilakukan. Pemerintah telah menyediakan platform yang cukup mudah diakses untuk masyarakat yang ingin memeriksa informasi ini. Penting untuk diingat, data ini bisa berubah seiring waktu dan pembaruan data di lapangan.
1. Melalui Situs Resmi Kementerian Sosial (Cek Bansos)
Salah satu cara paling umum dan resmi adalah melalui situs Cek Bansos milik Kementerian Sosial. Platform ini dirancang untuk memudahkan masyarakat dalam memverifikasi status penerima bansos.
1. Kunjungi Situs Cek Bansos
Buka browser dan ketikkan alamat resmi situs Cek Bansos Kementerian Sosial Republik Indonesia. Pastikan alamat yang diakses adalah situs yang valid dan bukan situs palsu atau penipuan.
2. Masukkan Data Wilayah
Pada halaman utama, akan diminta untuk memilih provinsi, kabupaten/kota, kecamatan, dan desa/kelurahan sesuai dengan alamat domisili. Pastikan data yang dimasukkan akurat agar hasil pencarian valid.
3. Masukkan Nama Lengkap
Setelah memilih wilayah, masukkan nama lengkap sesuai dengan Kartu Tanda Penduduk (KTP). Penting untuk memastikan ejaan nama sudah benar.
4. Masukkan Kode Captcha
Sistem akan meminta untuk memasukkan kode captcha sebagai verifikasi bahwa bukan robot. Ketikkan kode yang muncul dengan benar.
5. Klik "Cari Data"
Setelah semua data terisi, klik tombol "Cari Data". Sistem akan memproses permintaan dan menampilkan hasil pencarian.
6. Lihat Hasil Pencarian
Hasil pencarian akan menampilkan informasi mengenai status penerima bansos. Jika nama terdaftar, akan terlihat jenis bansos yang diterima, periode penyaluran, dan terkadang juga informasi desil. Jika tidak terdaftar, akan ada pemberitahuan bahwa nama tersebut tidak ditemukan sebagai penerima bansos.
2. Melalui Aplikasi Cek Bansos
Selain situs web, Kementerian Sosial juga menyediakan aplikasi mobile "Cek Bansos" yang bisa diunduh di smartphone. Aplikasi ini menawarkan kemudahan akses informasi kapan saja dan di mana saja.
1. Unduh Aplikasi Cek Bansos
Cari aplikasi "Cek Bansos" di Google Play Store (untuk Android) atau App Store (untuk iOS), lalu unduh dan instal aplikasi tersebut.
2. Buat Akun Baru (Jika Belum Ada)
Jika belum memiliki akun, lakukan pendaftaran terlebih dahulu. Biasanya, proses pendaftaran memerlukan nomor KTP, nama lengkap, dan data diri lainnya. Ikuti langkah-langkah yang diminta untuk membuat akun.
3. Login ke Aplikasi
Setelah akun berhasil dibuat, login menggunakan username dan password yang sudah terdaftar.
4. Pilih Menu "Cek Bansos"
Di dalam aplikasi, cari menu atau fitur yang bertuliskan "Cek Bansos" atau sejenisnya.
5. Masukkan Data Pencarian
Sama seperti di situs web, masukkan data wilayah dan nama lengkap yang ingin dicari.
6. Lihat Hasil Informasi
Aplikasi akan menampilkan informasi terkait status penerima bansos dan detail lainnya jika nama tersebut terdaftar.
3. Menghubungi Dinas Sosial Setempat
Jika mengalami kesulitan dalam mengakses situs atau aplikasi, atau jika ingin mendapatkan informasi yang lebih detail dan personal, bisa juga menghubungi atau mendatangi Dinas Sosial di tingkat kabupaten/kota atau kecamatan. Petugas di sana dapat membantu memeriksa status dan memberikan penjelasan lebih lanjut.
Disclaimer Data
Penting untuk diingat bahwa data yang ditampilkan bisa berubah sewaktu-waktu. Status desil atau kelayakan bansos seseorang dapat diperbarui secara berkala oleh pemerintah berdasarkan perubahan kondisi ekonomi atau data kependudukan terbaru. Oleh karena itu, disarankan untuk melakukan pengecekan secara berkala jika ada kebutuhan.
Apa Artinya Jika Desil Tinggi?
Mendapati desil seseorang tergolong tinggi, misalnya Desil 7, 8, 9, atau bahkan 10, memiliki implikasi yang cukup jelas dalam konteks program bantuan sosial. Ini bukan berarti ada yang salah, melainkan justru menunjukkan kondisi ekonomi yang lebih baik.
Indikasi Kesejahteraan Ekonomi yang Baik
Desil yang tinggi secara langsung mengindikasikan bahwa seseorang atau keluarga memiliki tingkat kesejahteraan ekonomi yang relatif baik atau bahkan sangat baik dibandingkan dengan sebagian besar populasi. Ini berarti penghasilan yang stabil, kemampuan untuk memenuhi kebutuhan dasar dengan nyaman, dan mungkin juga memiliki aset atau tabungan yang cukup.
Tidak Memenuhi Syarat Penerima Bansos
Konsekuensi paling utama dari desil tinggi adalah tidak memenuhi syarat untuk menerima sebagian besar program bantuan sosial yang ditujukan untuk masyarakat miskin dan rentan. Program-program seperti PKH (Program Keluarga Harapan), BPNT (Bantuan Pangan Non Tunai), atau bantuan tunai langsung lainnya memang difokuskan untuk Desil 1 hingga Desil 4 atau 5, tergantung jenis programnya.
Jika desil seseorang tinggi, itu berarti pemerintah menganggap bahwa mereka memiliki kemampuan finansial untuk memenuhi kebutuhan hidup sendiri tanpa perlu intervensi bantuan sosial. Ini adalah bagian dari upaya agar bansos tepat sasaran, menyalurkan bantuan kepada yang paling membutuhkan.
Fokus pada Kontribusi dan Kemandirian
Alih-alih menjadi penerima, individu atau keluarga dengan desil tinggi diharapkan dapat menjadi pihak yang berkontribusi terhadap pembangunan dan kesejahteraan sosial. Kontribusi ini bisa dalam berbagai bentuk, seperti membayar pajak secara tertib, menciptakan lapangan kerja, atau berpartisipasi dalam kegiatan filantropi.
Desil tinggi juga berarti ada kemandirian ekonomi yang kuat. Ini adalah tujuan utama dari program pembangunan, yaitu menciptakan masyarakat yang mandiri dan tidak bergantung pada bantuan pemerintah.
Pengecualian untuk Program Non-Ekonomi
Meskipun desil tinggi umumnya mengecualikan dari bansos berbasis ekonomi, ada beberapa program pemerintah yang tidak sepenuhnya bergantung pada desil. Misalnya, program vaksinasi, bantuan bencana alam yang bersifat universal, atau program-program yang menargetkan kelompok usia tertentu tanpa memandang status ekonomi. Namun, untuk bansos yang secara spesifik dirancang untuk pengentasan kemiskinan, desil tinggi adalah indikator tidak lolos.
Jadi, jika desil seseorang tinggi, itu adalah kabar baik dari segi kondisi ekonomi. Ini berarti hidup dalam kondisi yang lebih stabil dan mampu mandiri, tanpa perlu mengandalkan bantuan dari pemerintah.
Faktor-faktor yang Mempengaruhi Penentuan Desil
Penentuan desil bukanlah proses yang sembarangan. Ada banyak faktor yang dipertimbangkan dan diolah menjadi data untuk mengklasifikasikan tingkat kesejahteraan ekonomi seseorang atau keluarga. Ini memastikan bahwa penilaian yang dilakukan seobjektif mungkin.
1. Pendapatan Rumah Tangga
Ini adalah salah satu faktor paling krusial. Pendapatan rumah tangga mencakup semua sumber penghasilan yang diterima oleh anggota keluarga, baik dari gaji, usaha, pertanian, atau sumber lainnya. Semakin tinggi total pendapatan, semakin besar kemungkinan desil akan berada di kategori yang lebih tinggi.
2. Kepemilikan Aset
Aset yang dimiliki oleh rumah tangga juga menjadi pertimbangan penting. Ini bisa berupa kepemilikan tanah, rumah, kendaraan bermotor (mobil atau motor), perhiasan, tabungan, atau investasi lainnya. Semakin banyak dan bernilai aset yang dimiliki, semakin tinggi pula indikasi kesejahteraan ekonomi.
3. Kondisi Tempat Tinggal
Kualitas dan jenis tempat tinggal juga menjadi indikator. Misalnya, apakah rumah adalah milik sendiri atau sewa, luas bangunan, jenis material dinding dan lantai, serta fasilitas dasar seperti air bersih dan listrik. Rumah yang permanen dengan fasilitas lengkap cenderung menunjukkan desil yang lebih tinggi.
4. Tingkat Pendidikan Anggota Keluarga
Tingkat pendidikan kepala keluarga dan anggota rumah tangga lainnya seringkali berkorelasi dengan tingkat pendapatan dan kesejahteraan. Pendidikan yang lebih tinggi seringkali membuka peluang pekerjaan yang lebih baik dan penghasilan yang lebih besar.
5. Jumlah Anggota Rumah Tangga
Jumlah anggota rumah tangga juga dipertimbangkan karena mempengaruhi beban pengeluaran. Rumah tangga dengan banyak anggota namun pendapatan terbatas akan memiliki tingkat kesejahteraan per kapita yang lebih rendah.
6. Akses terhadap Layanan Dasar
Akses terhadap layanan dasar seperti kesehatan (misalnya, kepemilikan asuransi kesehatan) dan sanitasi (misalnya, jenis jamban yang digunakan) juga dapat menjadi indikator. Akses yang baik terhadap layanan ini seringkali menunjukkan kondisi ekonomi yang lebih stabil.
7. Kepemilikan Barang Elektronik
Kepemilikan barang-barang elektronik seperti televisi, kulkas, AC, atau perangkat komunikasi juga bisa menjadi salah satu indikator tambahan. Barang-barang ini seringkali dianggap sebagai kebutuhan sekunder yang hanya bisa dipenuhi jika kebutuhan primer sudah tercukupi.
Semua faktor ini dikumpulkan melalui survei dan pendataan yang dilakukan oleh instansi terkait, seperti Badan Pusat Statistik (BPS) atau Kementerian Sosial. Data ini kemudian diolah menggunakan metode statistik untuk menentukan posisi desil masing-masing rumah tangga. Proses pembaruan data ini juga dilakukan secara berkala untuk memastikan relevansi dan akurasi informasi.
Peran Data Terpadu Kesejahteraan Sosial (DTKS) dalam Penentuan Desil
Pembahasan tentang desil tidak akan lengkap tanpa menyinggung Data Terpadu Kesejahteraan Sosial (DTKS). Ini adalah basis data utama yang digunakan pemerintah Indonesia untuk menentukan kelayakan penerima berbagai program bantuan sosial, termasuk penentuan desil. DTKS adalah tulang punggung dari sistem penyaluran bansos yang akuntabel dan tepat sasaran.
Apa Itu DTKS?
DTKS adalah sistem informasi yang berisi data nama-nama penduduk dengan status kesejahteraan sosial mulai dari yang paling rendah hingga tertinggi. Data ini dikelola oleh Kementerian Sosial Republik Indonesia dan menjadi rujukan utama bagi kementerian/lembaga lain dalam menyalurkan program-program perlindungan sosial. Singkatnya, semua program bansos, baik dari pusat maupun daerah, akan merujuk pada data yang ada di DTKS.
Bagaimana DTKS Berhubungan dengan Desil?
DTKS adalah sumber data mentah yang kemudian diolah untuk menghasilkan pembagian desil. Data yang dikumpulkan dalam DTKS sangat komprehensif, mencakup informasi demografi, kondisi ekonomi, kepemilikan aset, kondisi tempat tinggal, dan faktor-faktor lain yang sudah dibahas sebelumnya.
Pusat Data dan Informasi Kesejahteraan Sosial (Pusdatin Kesos) Kementerian Sosial secara berkala melakukan pemutakhiran dan analisis terhadap data DTKS. Dari analisis inilah kemudian ditentukan posisi desil masing-masing rumah tangga. Jadi, desil seseorang adalah hasil dari pengolahan data yang ada di DTKS.
Pentingnya Pemutakhiran Data di DTKS
Agar sistem desil ini tetap relevan dan akurat, pemutakhiran data di DTKS menjadi sangat krusial. Kondisi ekonomi masyarakat bisa berubah sewaktu-waktu. Ada yang semula miskin menjadi lebih sejahtera, dan sebaliknya. Tanpa pembaruan data yang rutin, bansos bisa menjadi salah sasaran.
Masyarakat juga memiliki peran dalam pemutakhiran data ini. Jika ada perubahan kondisi ekonomi yang signifikan, seseorang bisa melaporkannya melalui pemerintah desa/kelurahan setempat atau melalui aplikasi Cek Bansos untuk mengajukan pembaruan data. Proses ini dikenal dengan istilah "usulan" atau "sanggah" data, yang kemudian akan diverifikasi oleh petugas di lapangan.
Mekanisme Verifikasi Data
Setiap data yang masuk ke DTKS, baik itu usulan baru maupun pembaruan, akan melalui proses verifikasi. Petugas dari desa/kelurahan atau dinas sosial akan melakukan kunjungan rumah (verifikasi lapangan) untuk memastikan bahwa data yang dilaporkan sesuai dengan kondisi riil di lapangan. Verifikasi ini penting untuk menjaga integritas data dan mencegah penyalahgunaan.
Dengan adanya DTKS dan proses penentuan desil yang sistematis, pemerintah berupaya keras untuk memastikan bahwa setiap program bantuan sosial dapat menjangkau mereka yang paling membutuhkan, sekaligus mendorong kemandirian bagi mereka yang sudah berada di tingkat kesejahteraan yang lebih baik.
FAQ: Seputar Desil Bansos
Apa perbedaan desil dan kuartil?
Desil dan kuartil adalah keduanya metode statistik untuk membagi data. Namun, perbedaannya terletak pada jumlah pembagiannya. Desil membagi data menjadi 10 kelompok yang sama besar (masing-masing 10% dari total data), sedangkan kuartil membagi data menjadi 4 kelompok yang sama besar (masing-masing 25% dari total data). Dalam konteks bansos, desil lebih sering digunakan karena memberikan segmentasi yang lebih rinci terhadap tingkat kesejahteraan.
Bisakah desil seseorang berubah?
Tentu saja bisa. Desil seseorang atau keluarga tidak bersifat permanen. Kondisi ekonomi dapat berubah seiring waktu, misalnya karena ada peningkatan atau penurunan pendapatan, perubahan jumlah anggota keluarga, atau perubahan kepemilikan aset. Pemerintah secara berkala melakukan pemutakhiran data di Data Terpadu Kesejahteraan Sosial (DTKS), yang kemudian akan mempengaruhi penentuan desil. Jika ada perubahan signifikan pada kondisi ekonomi, seseorang bisa mengajukan pembaruan data melalui pemerintah desa/kelurahan.
Apakah desil tinggi berarti saya tidak akan pernah menerima bansos?
Secara umum, jika desil seseorang tinggi (misalnya Desil 7 ke atas), kemungkinan besar tidak akan memenuhi syarat untuk menerima program bansos yang ditujukan untuk masyarakat miskin dan rentan. Program-program ini memang dirancang untuk kelompok desil yang lebih rendah. Namun, ada beberapa program bantuan yang tidak sepenuhnya bergantung pada desil, seperti bantuan bencana alam atau program kesehatan universal, yang bisa saja diterima oleh siapa saja tanpa memandang desil ekonomi.
Bagaimana cara mengajukan diri agar terdaftar di DTKS jika merasa layak menerima bansos?
Jika merasa kondisi ekonomi seseorang layak untuk mendapatkan bansos dan belum terdaftar di DTKS, bisa mengajukan diri melalui mekanisme usulan. Datang ke kantor desa/kelurahan setempat dan sampaikan keinginan untuk diusulkan masuk DTKS. Petugas akan membimbing untuk mengisi formulir dan data yang diperlukan. Selanjutnya, akan dilakukan verifikasi lapangan oleh petugas untuk memastikan kesesuaian data dengan kondisi riil. Proses ini bisa memakan waktu, jadi perlu kesabaran.
Apakah semua bansos menggunakan acuan desil?
Sebagian besar program bantuan sosial yang bertujuan untuk pengentasan kemiskinan dan perlindungan sosial di Indonesia menggunakan acuan desil atau data dari DTKS. Contohnya adalah PKH, BPNT, dan PBI JK (Penerima Bantuan Iuran Jaminan Kesehatan). Namun, ada beberapa program bantuan lain yang mungkin memiliki kriteria tersendiri yang tidak sepenuhnya bergantung pada desil, meskipun tetap akan mempertimbangkan kondisi ekonomi secara umum. Penting untuk selalu memeriksa kriteria spesifik dari masing-masing program bansos.
Daffa Arief Nugraha adalah penulis konten muda yang fokus pada konten islami, doa harian, dan gaya hidup. Berlatar belakang pendidikan agama, Daffa hadir di desaterapung.id untuk menghadirkan konten religi yang sahih dan mudah diamalkan.



